LUST, CAUTION
Akhirnya…, ini lah film yang bisa bikin saia memahami Ang Lee. Setelah Sense and Sensibility, Crouching Tiger Hidden Dragon, dan Brokeback Mountain yang secara umum hanya membuat saya terus-terusan berpikir ‘kapan film ini akan selesai’ saat sedang menonton, akhirnya…here comes Lust, Caution.
Film Mafia Shanghai pertama saia adalah Shanghai Triad-nya Yimou. Dan sebelum Lust,Caution saia selalu mengerutkan kening saat seseorang (penjual DVD bajakan di ambassador maupun mangga 2) menyodorkan film-film Ang Lee. Dan sambil mengerutkan kening biasanya saia berpikir “kenapa ya, saya nggak suka Ang Lee?” . Padahal film-film dia banyak dapet penghargaan (di AS) dan secara fisik dia bahkan lebih keren dari dua sutradara Cina faforit saya sepanjang masa (Wong Kar Wai dan Zhang Yimou).
Anyway…Lust Caution ternyata sedikit lebih keren dari Shanghai Triad. Ini lah film pertama Ang Lee (yg omong-omong hampir selalu berdurasi sekitar 3 jam) yang bikin saia betah nonton. Dan keberadaan aktor A-list faforit saya, Tony Leung, bikin saia makin menikmati film ini. Berperan sebagai half-beast-half-human, Tony Leung adalah versi Ketua Mafia dalam shanghai Triad dalam setelan jas dan flawless expression. Saia bahkan bersedia memaafkan sikap pesakitannya yang menyiksa Mak Tai Tai sebelum mereka bercinta.
Hmmm…masalah muncul ketika harus mengkategorikan film ini dalam sebuah genre. Antara Gangster Movie atau Costume Dramas.
Saia sih cenderung melihat ini sebagai Costume Dramas. Pertama, karena kostum dalam film ini sangat vital (dan tentunya mengacu-kan film ini pada sebuah periode waktu dan negara tertentu). Kedua, film ini memberikan porsi yang sangat besar (kalau bukan keseluruhan) untuk kisah drama. Yang mana bagian ini lah yang membuat saia jatuh cinta sama film ini. Semacam cerita percintaan antara mata-mata dan iblis. Kinda dark, sensual, and lushly. A very hard and strong story of love.
Ketiga, film ini merupakan adaptasi atas dua cerpen. Hampir semua film-film Costume Dramas adalah film-film hasil adaptasi karya litaratur tertentu (biasanya klasik). Semacam Pride and Prejudice, Elizabeth, Orlando, The Curse of Golden Flower, Gone with The wind, etc. Dan kalau diingat-ingat lagi, semua film Ang Lee yang sudah saia tonton mengindikasikan genre ini. Sense and Sensebility adaptasi novel klasik sentimental karya Jane Austen. Crouching Tiger, Hidden Dragon adaptasi literature Wuxia (bisa diartikan sebagai cerita silat). Dan Brokeback Mountain juga hasil adaptasi sebuah novelet pendek.
‘Ang Lee dan genre Costume Dramas’ , akan jadi judul paper yang saia buat kalau harus mengulang kelas Kajian Film Sutradara-nya Mbak Nan. Hehe. But…, I guess ‘Ekspresi Warna dalam film Wuxia Zhang Yimou’ (yang mana juga merupakan judul paper yang SUDAH saya buat) punya prospek yang cukup menjanjikan bagi saya untuk setidaknya lulus dari kelas ini.
Back to Lust,Caution. Butuh waktu beberapa bulan setelah film ini tayang di bioskop untuk saia memutuskan menontonnya. Pengalaman saia dengan Ang Lee sebelumnya tidak membuat saia menunggu-nungu karya dia berikutnya, tetapi untungnya saia membeli juga film ini beberapa hari yang lalu di Mangga 2. Versi bajakan dengan subtitle yang lebih baik karena versi original film ini sudah keluar.
Hal pertama dari kisah film ini yang menarik perhatian saia adalah penggambaran hubungan cinta Mr. Yee dan Mak Tai Tai yang sama sekali jauh dari romantisme-bikin-sakit-gigi. Kalau bukan malah anti romantisme semacam itu.
Very dark, powerful, and sensual. Ini film pertama dengan adegan seks dalam durasi yang cukup panjang yang saia setujui keberadaannya dengan sepenuh hati. Beberapa film yang memamerkan adegan seks dalam filmnya, jarang membuat saia paham benar kepentingan adegan itu dalam filmnya. Dan jarang benar yang bisa saia tonton dengan ketenangan dan penerimaan pasrah seorang penonton.
Adegan perkosaan dalam Irreversible yang meskipun harus saia akui urgensinya dalam film itu, bikin saia muntah. Anatomy of Hell yang dipaksakan oleh dosen kelas Penyutradaraan untuk ditonton pada semester pertama saya kuliah film, cuman bikin saia muntah lagi dan muak selama berjam-jam paska menonton. Last Tango n Paris cuman bikin saia mengerutkan kening. Saia belum tahu banyak soal Bernardo Bertolucci, jadi…saia belum benar-benar memahami benar adegan seks dalam film itu. Saia rasa wacana seks dalam film itu lebih bermain di wilayah filosofis daripada naratif.
Sementara dalam wilayah naratif (yang mana bisa lebih saya deteksi dengan mudah), Ang Lee benar-benar bicara soal sesuatu lewat adegan seks dalam filmnya ini. Bahkan dengan ini saia berani bilang, tanpa adegan-adegan itu, film Lust,Caution kehilangan maknanya. Bagaimana bisa kita melihat dan merasakan perkembangan hubungan cinta antara seorang ‘tuan’ dan mistress-nya tanpa gambaran bagaimana mereka berinteraksi as human being lewat seks?
Cita rasa realisme Ang Lee dengan mood yang sentimentil kembali muncul. Kayaknya ini memang cita rasa film-film dia. Sentimentalisme yang diceritakan dengan apa adanya dan di saat yang sama powerful dalam kecepatan yang pelan serta stabil.
Dibandingkan Zhang Yimo yang cenderung memberikan semacam ledakan emosi dalam satu momen dalam film-filmnya, Ang Lee lebih suka menarik ulur emosi dalam film ini sepanjang 3 jam tanpa henti. Membutuhkan kesabaran saat menonton film ini, tetapi dengan suspense yang tepat takaran dan passionate emotion di setiap scene-nya, it’s really worth a shot.
