Notes: Ini…..adalah hand-out seminar untuk kelas Teori Film Klasik.
Saia bersama 5 teman lain lagi praktek jadi pembicara seminar tentang film.
Saia kebagian Bazin, dengan 2 cewek yang lain. Yang mana sama sekali tidak mengherankan….
setelah mengkaji ulang gaya tulisan dan juga tampang Bazin.
Bener-bener …. doi tuh Marlon Brando-nya dunia Teori Film Klasik ^o^
DEPTH OF FIELD SEBAGAI REVOLUSI ESTETIKA
DALAM EVOLUSI BAHASA SINEMA (1920 -1940an)
MENURUT BAZIN
TEORI FILM KLASIK
Teori Film Klasik adalah hasil usaha beberapa teoris film untuk merumuskan definisi film yang berkembang hingga tahun 50an. Teori-teori yang dihasilkan bertujuan untuk memenuhi ambisi mereka dalam menjadikan film sebagai seni, atau lebih tepatnya seni ketujuh.
Film yang awalnya dianggap sebagai salah satu kategori seni visual seperti halnya seni lukis mendapat tantangan ketika muncul perubahan cara mendefinisikan seni dalam lukisan pada tahun 20an. Ada kecenderungan baru untuk lebih menekankan pada keunikan medium seni lukis itu sendiri dalam menangkap sebuah esensi, bukan sekedar mengimitasi atau merepresentasikan obyek lukisan. Melihat ini, para teoris film juga merasakan perlunya mendefinisikan medium dari film yang unik dan berbeda dari seni lain sehingga bisa dimanifestasikan sebagai sebuah seni. Proses eksplorasi medium film dalam rangka menjadikannya sebuah medium ekspresi artistik pun menjadi agenda utama teori film klasik.
EVOLUSI BAHASA SINEMA MENURUT BAZIN
Pada tahun 1920an, sinema Eropa dan Amerika telah mencapai puncak pencapaian estetika yang berhasil menempatkan film sebagai salah satu kategori seni visual. Kemunculan sinema-sinema avant-garde semacam Expresionist German, Impresionist Prancis, dan Montage Soviet adalah salah satu bukti sejauh mana para filmmaker berhasil mendorong potensi medium film untuk menjadikannya sebuah ekspresi artistik.
Menjelang akhir 1920an, kemunculan film bersuara menimbulkan problematika tersendiri. Banyak yang menganggap kemunculan suara mematikan estetika film bisu yang lebih menekankan pada potensi ekspresi visual. Namun, film bersuara makin memantapkan langkahnya sehingga pada tahun 1930an Amerika dan Eropa dibanjiri film-film talkies. Keberadaan suara memungkinkan dialog dan keberadaan dialog membuat potensi mengeksplorasi unsur visual dalam film berkurang. Kecenderungan dari film-film talkies ini adalah segala sesuatu yang sebelumnya harus ditampilkan, kini bisa dibicarakan.
Rumusan baru terhadap film pun dibutuhkan. Rumusan yang mengikutsertakan suara sebagai bagian dari film yang bisa pula menjadi sebuah medium ekspresi artistik. Apakah film style yang tepat untuk film bersuara? Bagaimanakah film style harus berevolusi untuk membawa film bersuara mencapai level keberhasilan estetik sebagai seni ketujuh?
Bazin menjadikan kemunculan suara sebagai titik awal permasalahan yang ia angkat dalam tulisannya “The Evolution Of The Language Of Cinema”. Ia melihat kemunculan suara sebagai sebuah tantangan baru dalam melihat sejarah bahasa sinema (film style) dan mendefinisikan seni sinema yang baru. Dalam melihat sejarah perkembangan film style pada rentang waktu 1920-1940an, Bazin mereduksinya sebagai hasil dari interaksi dua tren yang berkembang antara sutradara ‘imagist’ dan sutradara ‘realist’.
I will distinguish, in the cinema between 1920 and 1940, between two broad and opposing trends: those directors who put their faith in the image and those who put their faith in reality.[1]
Para sutradara ‘imagist’ adalah orang-orang yang menurut Bazin menampilkan imaji dengan cara merekayasa plastik imaji (mise-en-scene) seperti dalam Ekspresionisme Jerman dan dengan cara merekayasa melalui editing seperti Eisenstein. Di tahun 1920an, tren yang berkembang adalah didominasi oleh sutradara-sutradara yang percaya pada ‘imaji’ ini. Sementara para sutradara ‘realist’ yang percaya pada realita yang dimaksud Bazin adalah orang-orang seperti Robert Flaherty, Eric von Stroheim, dan F.W Murnau.
Jika rentang waktu 1920-1940an dibagi dalam sebuah skema, Bazin akan mengkategorikan periode awal tahun 1920-1938 sebagai periode dimana tren imagist masih menguasai cara pandang terhadap bahasa sinema. Rekayasa melalui mise-en-scene dan montage masih menjadi sebuah panduan dalam mencapai estetika film. Sementara tahun 1938-1940an dikategorikan sebagai periode dimana tren realis ganti mendominasi. Gaya editing yang awalnya bersifat simbolik, menjadi kembali ke karateristik decoupage yang disempurnakan oleh Griffith di tahun 1915 lewat The Birth Of Nation. Gaya Classical Cutting adalah cara lain dalam menggunakan editing secara dramatik dengan menjaga kontinuitas hubungan antar adegan agar tidak tampak terinterupsi atau terpotong-potong (invisible cutting). Diikuti munculnya gerakan neorealisme di Italia yang memiliki kiblat ke arah tren realis tersebut, Bazin mencoba menganalisa titik balik yang merubah tren dalam evolusi bahasa sinema pada tahun 1920-1940an.
DEPTH OF FIELD SEBAGAI REVOLUSI ESTETIKA
Meskipun suara memang menjadi sebuah titik awal permasalahan, menurut Bazin, suara tidak memberikan peranan besar dalam evolusi bahasa sinema yang mendukung realisme. Bazin justru menunjuk Profondeur De Champ (biasa diterjemahkan sebagai Depth of Field) sebagai sebuah langkah besar dalam kemajuan evolusi bahasa sinema yang mendukung realisme.
This is why depth of field is not just a stock in trade of the cameraman like the use of a series of filters or of such-and-such a style of lighting, it is a capital gain in the field of direction- a dialectical step forward in the history of film language.[2]
Mengapa Bazin memilih depth of field? Kemunculan suara mendukung dimensi realisme dalam film karena realita yang ditangkap manusia di sekitar mereka memang bersuara. Namun, Depth of Field justru memungkinkan manusia menerima imaji yang ‘jelas semua’ tertangkap oleh mata mereka. Padahal mata manusia tidak bisa melihat realita secara ‘jelas semua’.
Dalam menangkap realita, mata manusia memiliki keterbatasan tertentu. Pertama,ia memiliki mekanisme focusing. Ketika mata manusia focus dalam melihat sebuah object, object lain dalam radius pandangannya akan menjadi blur. Kedua, dalam kegiatan melihat manusia memiliki sebuah ‘titik hilang’ . Jika kita andaikan saja secara sederhana manusia memiliki jarak pandang nyaris 180° , maka ada daerah tertentu di dalam batas tersebut dimana manusia tidak bisa melihat object di sekitarnya. Ini lah yang disebut sebagai daerah ‘titik hilang’.
Depth of Field tidak sama dengan suara dalam menampilkan imaji yang mirip dengan realita sesuai dengan persepsi indra manusia. Bahkan inferior dibandingkan dengan suara, dalam hal ini. Lalu kenapa Bazin tidak memilih suara, dan malah Depth of Field sebagai revolusi estetika dalam perkembangan bahasa sinema dalam rentang waktu 1920-1940an?
Dalam tulisannya, “ The Ontology of the Photographic Image” Bazin menekankan bahwa kualitas estetika sebuah imaji fotografi berasal dari kemampuannya menampilkan realita.
The aesthetic qualities of photography are to be sought in its power to lay bare the realities.[3]
Maka dalam hal ini, Depth of Field dianggap sebagai sebuah kemajuan besar dibandingkan suara karena ia tidak hanya sekedar mendukung realisme. Imaji yang dihasilkan oleh depth Of Field memberi keleluasaan pada kita untuk mengamati shot secara utuh dan menentukan obyek yang menjadi pusat perhatian. Depth Of Field bahkan membantu dalam menciptakan sebuah realita baru dengan menampilkan sebuah imaji di layar seperti realita di depan mata kita.
The photographic image is the object itself, the object freed from the conditions of time and space that govern it. No matter how fuzzy, distorted, or discolored, no matter how lacking in documentary value the image may be, it shares, by virtue of the very process of its becoming, the being of the model of which it is the reproduction; it is the model.[4]
Dengan kata lain, Depth of Field adalah alat yang sempurna untuk memuaskan obsesi terhadap realita. Ia memungkinkan untuk menampilkan sebuah realita baru dengan karateristik mirip seperti realita yang ada di hadapan kita dan direkam oleh kamera.
[1] Andre Bazin, “ The Evolution Of The Language Of Cinema” tulisan dari kumpulan esai yang diterjemahkan Hugh Gray dalam ‘What is Cinema vol.1’ p. 24
[2] Andre Bazin, “ The Evolution Of The Language Of Cinema” tulisan dari kumpulan esai yang diterjemahkan Hugh Gray dalam ‘What is Cinema vol.1’ p. 35
[3] Andre Bazin, “ The Ontology of the Photographic Image” tulisan dari kumpulan esai yang diterjemahkan Hugh Gray dalam ‘What is Cinema vol.1’ p. 15
[4] Andre Bazin, “ The Ontology of the Photographic Image” tulisan dari kumpulan esai yang diterjemahkan Hugh Gray dalam ‘What is Cinema vol.1’ p. 14
ya ya ya
doi tuh Marlon Brando-nya dunia Teori Film Klasik <— Kl dari dulu aja ada yang ngomong begini kan gw jdnya tertarik baca tulisan2nya bazin, kirain dia membosankan..thx ya
cheers,
http://filmindonesia.blogsome.com/
ya ya ya kenapa sunuy?
hehe.
Giliran lo ya tahun ini berseminar ria…
sudah membuat pilihan kah?
Antara Bazin dan Eisenstein?
^o^
@ Revilo:
Jangan salah. Bukan berarti doi tidak membosankan sama sekali ^o^
Terutama kalo lo dipaksa harus menyelesaikan membaca dua volume bukunya “What is Cinema?” ituh dalam dua bulan saja, plus membuat satu paper seminar mengenainya,….fuihhh…kinda big nightmare.
Tapi karena pilihannya saat itu hanya Bazin dan Eisenstein. Well, harus membaca “Film Form dan Film Sense” terasa seperti a bigger kind of nightmare for me. So…,
^_^
Daun-daun berguguran meninggalkan sumbernya dan ranting-ranting menjulur menjilat tepian sungai, dengan cermin dari riak air sungai. Mendung terhadirkan diantara selangkangan jembatan yang menghubungkan dua tepian. hanya kebekuan dan kesenyapan yang terkesan.
mungkin kata-kata bisa menggambarkan gambar yang terpampang diblog ini sehingga tersampaikan yang ada dalam gambar tersebut. sehingga kata tak ubahnya gambar. Dengan pemahaman depth of field sebagai pembentuk cinema. mungkin akan sampai pemahaman akan yang ingin disampaikan dalam gambar. Tetapi coba bayangkan jika gambar tersebut ditambah dengan suara angin, gemericik air ataupun gesekan ranting. Mungkin dengan suara-suara itu gambar tersebut lebih berbicara.
Untuk sekarang cinema adalah perpaduan antara elemen visual dan akustik. Sehingga terciptalah cinema seutuhnya. Lantas kita disuruh memilihnya, maka visualah yang akan terpilih. Menggugat cinema lewat salah satu unsurnya tak ubahnya menggugat rakyat dan pemerintahan dalan negara. Karna keduanya tak bisa terpisakan.
Lalu setelah gambar dan suara terdamaikan sebuah tanya muncul. Bagaimana kita membentuknya ?
Salam kenal
joko