( A Feeling I got when I listen to ‘Cruisin’ by Sioen for the 20th times)
Ada sesuatu tentang musik yang membuatku selalu bertanya-tanya. Bagaimana mendengar rangkaian bunyi dan nada dari gesekan biola saja bisa membuat perut dan dadaku mengejang, seperti ada senar tipis yang mengikatnya kuat-kuat.
Bagaimana musik membuat kita berada pada titik dimana kita hanya bisa merasa. Tidak ada yang bisa dipahami dari musik. Tidak ada kata-kata, karena lirik pun tak lagi berfungsi sebagai kata-kata.
Ada secuil ekstasi yang membuatmu tak habis pikir. Bagaimana bunyi-bunyian yang terangkai itu bisa mendorong indra yang lain untuk bekerja. Otakmu bisa menampilkan sebuah imaji visual, ada hentakan-hentakan halus di dada dan perut bagian atasmu, dan kau terdampar pada satu momen yang absurd.
Pada momen ini, kau melupakan keberadaanmu. Bunyi-bunyian itu melingkup, mengurung, dan mengisolasi dirimu dari segala sesuatu yang lain. Hanya ada nada-nada tunggal piano yang bermain dan terekam bukan oleh memori otakmu, tetapi memori perasaanmu. Hingga ketika di suatu masa yang jauh, ketika kau mendengar nada-nada yang sama, yang muncul pertama bukan lah ingatan tentang musik itu, tetapi perasaan yang terekam saat pertama kali kau mendengar musik itu.
Ada sesuatu tentang musik yang tak pernah mudah untuk dijelaskan. Pada satu perangkat memori yang bahkan sulit untuk kau lokasikan. Memainkan emosimu dengan lebih tajam dan cepat dibandingkan kata-kata dan gambar. Seolah ada sensor kecil yang luar biasa sensitif yang menghubungkan telinga dan hatimu.
Seperti tiap kali aku memutar lagi ‘Cruisin’ by Sioen. Aku hanya ingin memejamkan mataku dan membiarkan getar-getar halus mengisi dadaku dan nyeri yang aneh merayap pada bahu dan telapak tanganku. Sehingga pada momen seperti ini, kau merasa tak mungkin lagi bisa mematikan rasa.