Ada sebuah ruang kecil dalam diriku yang bahkan tidak bisa ku-lokasi-kan dengan tepat dimana tempatnya. Tapi aku bisa sedikit mengambarkannya. Ruangan itu kecil, gelap, dan memiliki sebuah pintu yang selalu terbuka mengarah ke arah datang cahaya.
Setiap kali –kadang saat tiba-tiba terbangun tengah malam dan tak lagi bisa tidur, kadang saat seharian menyadari tak bisa melakukan apapun kecuali ingin lari- tanpa aku sadari aku sudah berada di ruangan itu dan tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Bisa makan waktu hingga dua atau tiga hari sebelum aku bisa keluar, atau memaksa diriku keluar. Namun, saat aku berada di dalam ruangan itu biasanya memang sudah tidak ada lagi yang tersisa untuk dilakukan.
Ruang kecil ini hanya bisa digambarkan dengan keberadaanku di dalamnya. Ia bukan sebuah ruangan yang bisa digambarkan sebagai sesuatu yang mengambil wujud fisik di luar diriku. Ruangan itu hanya bisa ada ketika aku berada di dalamnya. Karena itu lah begitu sulit bagiku bercerita mengenainya. Tapi aku bisa sedikit menggambarkannya.
Di dalam ruangan itu, tidak ada batas jelas antara apa yang aku pikirkan dan yang aku rasakan, yang sudah terjadi dan yang akan terjadi. Semua batas kabur. Lebih mirip berada dalam sebuah dunia bayang-bayang dimana tidak banyak yang tersisa untuk dijelaskan kecuali gelap, cahaya, dan bayangan.
Ketika berada di dalamnya, kau bukan lagi kanak-kanak, remaja, ataupun tua. Kau bukan lagi tubuhmu. Kau hanya kau saja, sendirian. Tak peduli berapa banyak saudara yang kau punya, orang tua, pacar, suami, istri, mertua, anak, cucu, menantu. Itu ruangan yang kecil dan hanya memuat dirimu seorang saja, meskipun lewat pintu yang terbuka kau bisa melihat siapa pun di luar sana.
Ruangan itu menyediakan semua yang kau perlu. Kenangan masa kecil, ingatan yang patah, sesuatu yang tidak ingin kau pikirkan, sesuatu yang selalu kau pikirkan, perasaan yang kau elakkan, perasaan yang hilang, emosi yang kuat mencengkeram, ke-matirasa-an, lagu-lagu sedih yang diputar berulang-ulang, sebungkus rokok, secuil ekstasi.
Kau hanya perlu berada di sana, seperti aku, -kadang-kadang- ketika memang saatnya. Bahkan keberadaanmu di sana tak bisa kau kontrol sepenuhnya. Sama seperti kau mengira kau bisa melihat sebuah tanda panah penunjuk jalan dalam hidupmu kemudian kau malah berakhir pada jalur yang berlawanan arah sama sekali. Atau ketika kau mencoba memikirkan sesuatu yang akan datang -angka selanjutnya, kata selanjutnya, benda selanjutnya, orang selanjutnya- kau malah dihinggapi pemandangan buram mengenai masa selanjutnya, waktu setelah ini semua.
Ruangan ini begitu terbuka untuk semua pemikiran bodohmu. Bahkan kalau pun itu hanya sekedar fantasi kecil tolol yang muncul pertama kali di otakmu saat kau sedang berada dalam sebuah ujian di kelas, sebuah rapat di kantor, sebuah jalanan ramai oleh kemacetan atau sebuah pojokan di kedai makan.
Dan yang paling menarik adalah, ruangan ini bahkan memberikan ruang untuk semua pikiran dan perasaan yang tidak bisa kau kategorikan dan kau definisikan. Kau berpikir semaumu, kau merasa semaumu, kau berbuat semaumu. Tak ada yang bertanya kenapa, apa, siapa. Hanya ada. Ruangan itu hanya butuh ada dengan kau mengada di dalamnya.
Ini adalah sebuah ruang kecil, dunia kecil dimana saat seluruh dunia menolak keberadaanmu, kau selalu bisa masuk ke dalamnya dan tak ada sesuatu pun yang bisa mengusirmu. Ini adalah sebuah ruang kecil yang tak akan menyelesaikan apapun, tetapi menerima segalanya. Pun aku, yang tak pernah tahu berapa lagi waktu yang kubutuhkan sebelum keluar dari sini.