Kampanye anti narkoba sering sekali dilakukan, kampanye anti free-sex (atau minimal seks yang aman) lebih sering pula saya dapati, belum lagi kampanye pencegahan HIV-AIDS, kampanye calon gubernur, kampanye calon presiden, kampanye Global Warming, kampanye wajib belajar 9 tahun, kampanye memberantas buta huruf, sampai kampanye program-program yang termaktub dalam Millenium Development Goals. Belakangan saya baru sadar, saya belum pernah mendengar atau melihat secara langsung kampanye anti-rokok. Entah saya yang kurang ‘melihat dan mendengar’ atau kampanye itu memang jarang atau malah sama sekali tidak pernah dilakukan.
Sejak kecil, terutama saat kita masih menjalani wajib belajar 12 tahun (SD-SMA), kampanye buruknya rokok bagi kesehatan berlangsung dari mulut ke mulut. Dari pengumuman guru TK (yang menyuruh sebisa mungkin menghindar dari asap rokok karena itu menjadikan kita perokok pasif), peringatan guru SD, nasihat orang tua, tuntutan guru SMP, sampai hardikan guru SMA. Ditambah papan-papan anjuran kesehatan di rumah sakit dan klinik dokter yang sangat akrab di mata saya mengenai bahaya nikotin jika telah masuk ke dalam tubuh kita. Saya sampai berpikir jika merokok pastilah juga ‘dosa besar’ yang bisa membuat kita masuk neraka. Sampai suatu hari, saya melihat guru ngaji saya juga merokok.
Setelah lebih besar sedikit, beberapa teman saya yang membaca majalah-majalah mode pun memberitahu bahwa rokok bisa membantu saya mengatasi masalah obesitas. Mereka juga memberitahu bagaimana rokok bisa beralih dari ‘dosa besar’ jadi ikon tren tertentu. Teman-teman saya ini adalah gadis-gadis yang menyukai fashion, majalah fashion, tubuh kurus model anorexia, dan tentu saja penonton setia Sex and the City.
Bagaimana rokok bisa menjadi ikon tren terjadi setelah mereka melihat salah satu episode Sex and The City dimana Sarah Jessica Parker pergi ke Paris bersama pacar barunya yang seniman. Sarah melihat bahwa nyaris semua perempuan Prancis merokok dan makan dalam porsi yang sangat kecil. Itulah yang membuat mereka jarang memiliki masalah obesitas seperti layaknya orang-orang Amerika Serikat dimana junk food merajalela. Maka Sarah pun mencoba membiasakan diri menjadi salah satu dari perempuan-perempuan Paris di sekitarnya. Memakai baju mode terbaru hanya untuk berjalan-jalan dengan anjing peliharaannya, merokok di segala kesempatan, dan tentu saja bertambah kurus setiap harinya.
Bagi teman-teman saya, pemahaman bahwa Paris adalah kota yang keren (mode, anggur, syal Hermes, menara Eiffel, Le Cite d’amour) membuat mereka melihat perempuan-perempuan Paris adalah sebuah ikon ‘kekerenan’ yang patut ditiru. Melihat idola mereka, Sarah Jessica Parker, punya ide yang sama soal menjadikan kebiasaan perempuan Paris sebagai tuntunan hidup, teman-teman saya makin yakin bahwa merokok (dan menjadi penderita anorexia) bukanlah sebuah ‘dosa besar’.
Saya tidak terlalu menganggap penting isu soal rokok lagi, sampai suatu hari saya menonton film berjudul Thank You for Smoking. Ini adalah salah satu film yang menurut saya sangat cerdas dan lucu dalam menyinggung isu rokok (bisa dianggap sebuah usaha kampanye anti-rokok kah?). Film ini bercerita tentang seorang juru bicara sebuah perusahaan rokok besar yang menghabiskan waktunya berbicara dan membuat image baik tentang perusahaan rokoknya serta melindungi kenyamanan para perokok seantero negeri.
Dari film ini saya baru tahu bagaimana cara kerja promosi perusahaan rokok yang sebenarnya. Mereka melakukan segala cara: dari mensponsori pembuatan sebuah film berbudget tinggi demi sebuah scene yang memperlihatkan tokoh utamanya merokok dengan gaya yang impresif hingga mengumumkan pada publik bahwa perusahaan sedang melakukan penelitian (yang belum selesai, atau tidak pernah akan selesai) untuk membuktikan bahwa rokok tidak mengancam kesehatan. Kalau ada profesi yang bisa membalikkan fakta dengan kemampuan bicara mereka yang begitu hebatnya, profesi itu pastilah pengacara dan juru bicara.
Adegan kesukaan saya adalah tiap kali sang juru bicara perusahaan rokok ini pergi makan siang bersama dua temannya. Yang satu adalah juru bicara sebuah perusahaan senjata berapi, yang satu lagi juru bicara perusahaan minuman keras. Mereka bertiga berdiskusi dan saling menunjuk, mana diantara ketiga hal yang menjadi sumber penghasilan mereka, lebih banyak membunuh rakyat Amerika Serikat. Hasilnya: peringkat ketiga adalah senjata api, kedua minuman keras, dan peringkat pertama adalah rokok. Mereka setuju dengan hal itu karena rokok adalah senjata pembunuh paling murah yang bisa ditemukan dibandingkan minuman keras dan senjata api.
Bagi saya, melihat para juru bicara ini makan siang dengan santainya sambil membicarakan angka kematian yang dihasilkan oleh benda yang membayar pengeluaran hidup mereka selama ini adalah representasi sikap perusahaan yang mereka wakili pula. Para pengusaha rokok, minuman keras, dan senjata api ini tidak peduli berapa banyak orang yang mereka ‘bunuh’ asal itu membuat kekayaan mereka bertambah, menumpuk, dan berlimpah. Satu-satunya ‘hutang’ yang diakui perusahaan rokok pada masyarakat luas konsumennya hanyalah apa yang telah direduksi dalam satu kalimat judul film ini: Thank You for Smoking.
Apakah hal ini akan berubah jika pemerintah menetapkan larangan tertentu dalam mengiklankan produk rokok dan minuman keras di televisi? Saya rasa tidak. Para pengusaha ini menjadi kaya dan sukses tidak tanpa usaha, kerja keras, dan kemampuan otak. Mereka akan menemukan cara lain untuk mengiklankan produk mereka. Masih ada banner, poster, neon sign toko, lampu jalanan kota, dan acara-acara tertentu yang bisa ‘ditempeli’ oleh iklan produk mereka. Masih ada sejuta cara yang bisa mereka pikirkan dan lakukan untuk mempromosikan produk mereka dan menjaring konsumen sebanyak mungkin sampai entah di suatu masa (mungkin) di masa depan, pemerintah akhirnya berani membuat kebijakan larangan beriklan lewat media apapun.
Namun, seperti juga kampanye anti-rokok yang dilakukan guru-guru dan orang tua kita sejak kecil, bukan berarti kampanye (usaha beriklan rokok) dari mulut ke mulut tidak bisa dilakukan.
Ehm aku juga gak berapa lama ini nonton tuh film…
wah bagus juga lho film itu (aku nonton bareng anak2 yang perokok ). lucunya mereka sering komentar & dukung segala pembelaannya si Jubir : (
klo aku sih ngelihatnya dari sisi sikap gentle & sikap pendelegasian yang keren aja darinya, patut di contoh.
Btw aku ini jarang ngerokok, tapi ya klo lagi kumpul2 ama teman2ku itu ya jadi perokok (masa aku sendirian gak ngerokok, ntar aku yang jadi aneh) he he he
Hehe…itulah pekerjaan jubir. Mirip pengacara. Memutarbalikkan fakta dengan cara yang paling persuasif.
Jangankan temen-temenmu. Dalam film itu saja ‘ceritanya’ jutaan penduduk Amerika percaya sama si Jubir. Karena orang ini kan bertugas mem-backing kepentingan orang-orang yang merokok dan yang mendapat uang dari rokok. Jelaslah temenmu mendukung, wong kepentingan mereka dibela.
Anyway…makasih udah comment ya. Sering-sering mampir ya ^o^;