Pernah nggak, merasa terperangkap dalam sebuah medan perang. Dikelilingi orang-orang dengan senjata, jaket anti peluru, dan bom Molotov. And we just standing there. Have nothing except gum, chewed in our mouth ?
Well, if u are as weird as I am, u might ever been in the situation.
Berada dalam situasi dimana kita merasa unprepared for everything dan seolah-olah sekedar tercebur saja ke dalamnya karena kita tidak tahu hal lain untuk dilakukan kecuali terjun? Simply, karena tidak ada pilihan lain?
Anyone?
Okay, so maybe I’m the only weirdo here.
Beneran deh, berada dalam situasi semacam itu bikin kita serba salah. Menyerah, dituduh pengecut. Mencoba menghentikan peluru dan bom Molotov menghunjam tubuh kita dengan permen karet, jelas bukan solusi jitu.
Seelastis apapun permen karet –nggak peduli udah berapa hari kita mengunyahnya- yang namanya perangkat perang memang sudah didesain dari sononya untuk tidak bisa dihancurkan dengan mudah. Karena perang kan memang masalah menyerang dan bertahan. Jadi memang sudah menjadi syarat utama fasilitas sebuah perangkat perang untuk bisa mengakomodir dua kebutuhan di atas secara bersamaan: menyerang dan bertahan.
Permen karet, di sisi lain, diciptakan sebagai jenis snack hemat yang tidak akan habis walaupun dikunyah selama 24 jam. Sangat cocok digunakan di Negara-negara yang kurang pangan kalau saja sudah ada ilmuwan yang bisa menambah kadar protein, karbohidrat, sekaligus vitamin di dalamnya.
Tapi, itu masalah lain. Problem kita saat ini adalah, bagaimana caranya agar saya dan orang-orang aneh lainnya bisa lari dari situasi seperti di atas?
Negoisasi adalah kunci utama dalam kegiatan apapun yang melibatkan lebih dari satu pihak. Mirip konsep kompromi dalam pernikahan. Atau diplomasi dalam hubungan internasional.
Caranya:
Pertama-tama, tunjukkan I’tikad baik. Jangan menampakkan sikap bahwa kita tidak merasa nyaman dengan perang tersebut. Pernyataan semacam itu hanya akan memicu diledakkannya bom Molotov di mulut kita. Jangan juga kelihatan kita sudah niat menyerah. Pengecut adalah musuh utama dalam perang, selain musuh dari kubu lain tentunya.
Kedua-dua (usaha penulisan yg konsisten), kalaupun permen karet adalah satu-satunya yang kita punya, maka gunakanlah benda itu untuk melawan dengan seluruh kemampuannya. Semangat berjuang adalah hal yang paling dihargai dalam perang.
Ketiga-tiga (masih mencoba konsisten), Usahakan jangan terlalu bersemangat melawan. Karena usaha melukai diri sendiri tentu saja adalah tindakan bodoh, mengingat KITA CUMAN PUNYA PERMEN KARET BUAT NGELAWAN BEDIL-BEDIL TERSEBUT.
Keempat-empat (oke, ini mulai aneh), bernegoisasi lah. Bicara pada sang jendral perang yang punya ide soal perang hari ini. Katakan sejujurnya bahwa kita sebenarnya bersedia sepenuh hati terlibat dalam perang ini (mengingat jika kita katakan tidak, ada bedil yg siap melubangi tenggorokan kita) , hanya saja kita kurang siap.
Berikan berbagai alasan yg masuk akal: keluarga sedang kena wabah diare sehingga anda sibuk merawat mereka dan lupa mempersiapkan diri untuk perang hari ini, percobaan penciptaan senjata nuklir terbaru anda mengalami kemacetan karena dana yang tidak turun juga (berjanjilah bahwa anda akan memakai dana pribadi untuk meneruskannya), atau anda mengalami short-term-lost-memory sejak kecelakaan kemarin lusa.
Kelima, setelah alasan di-approve (lakukan segala rayuan yg bisa anda lakukan agar proses approving bisa terjadi): Minta tenggang waktu untuk mempersiapkan diri dalam perang yang akan datang. Anggap saja masa gencatan senjata. Bikin janji perang selanjutnya dan pastikan dalam perang berikutnya ANDA PUNYA PERANGKAT NUKLIR DAN SENJATA BIOLOGIS PALING HEBAT SEDUNIA UNTUK MENGGANTIKAN PEMEN KARET ANDA.
Karena jika anda muncul lagi dalam perang selanjutnya hanya berbekal bedil-bedil, tank, dan bom molotov standar, anda akan mati dengan mudah. Terlalu mudah, bahkan setelah anda mati pun, nisan anda akan dipenuhi graffiti buatan kubu yang menang perang dengan tulisan-tulisan bertendensi menertawai, meremehkan dan merendahkan.
Bayangkan, anda harus mati dengan nisan bertuliskan:
R.I.P
Seorang pejuang pecundang
Dan Seorang Pecinta Permen Karet
Sama sekali bukan bayangan yang menyenangkan, bukan?
Jika abstraksi di atas anda hubungkan dengan pepatah-pepatah purba semacam: Hidup adalah perjuangan atau Hidup adalah medan perang, pasti anda tahu kan situasi yang saya maksud?
Karena ada kalanya, dalam sebuah perang (diantara perang-perang lain yang harus kita hadapi setiap hari sepanjang hidup kita) kita hadir dalam keadaan un-conscious, unprepared, dan insane. Sebuah situasi yang sangat manusiawi karena well, manusia memang kodratnya punya salah.
Itulah saat dimana anda merasa terperangkap di tengah tank, senjata, dan bom Molotov sementara satu-satunya yang anda punya hanyalah permen karet di mulut anda. Dan saat kesempatan kedua adalah satu-satunya harapan anda untuk bertahan hidup, anda tahu anda harus mengerahkan segala kemampuan dan kekuatan yang ada untuk menang.
Jadi, saya kira saya bukan satu-satunya weirdo di sini
^ o ^;