Ini analogi yang baru saja gue temukan di kelas Kajian Film Dunia. Setelah beberapa hari mengalami gegar otak ringan akibat teror di kelas Teori Film Klasik, gue sedang mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi dengan otak gue.
Para teoris film aja ribet-ribet bikin berbagai teori cuman buat memahami apa itu film. Jadi apa salahnya gue bikin teori untuk memahami apa yang terjadi saat gue belajar soal teori film?
Di kelas Kajian Film Dunia, Mas Seno (yup, saudara-saudara, yang gue maksud adalah Seno Gumira Ajidarma nan kondang itu) bilang bahwa kita bisa ngibul dengan sesuatu yang ilmiah. Sesuatu yang ngibul juga bisa dibuktikan dan diperkuat secara ilmiah.
Jadi, yang membedakan teoris besar macam Andre Bazin dan tukang becak saat ngomong soal realita adalah level pembicaraannya. Sejauh mana ‘kibulan’ mereka bisa dipercaya orang banyak. Jelas, dalam hal ini Andre Bazin menang telak dari si tukang becak karena selain dia punya berbagai corpus untuk memperkuat teori-teorinya, dia juga super tenar setelah berhasil melabeli pula teori-teorinya dengan prinsip-prinsip Ketuhanan. Sebuah tunggangan teori atas teori lain.
Anyway, menurut Mas Seno, kalau semua konsep kita telaah, kaji dan bongkar lebih dalam, semuanya hanyalah discourse dan tak lebih dari ‘pengada-ngadaan’ teori yang ditunggangi pihak-pihak dengan kepentingan tertentu.
Kayak misalnya, label neorealisme yang berusaha menjelaskan sejumlah produksi film Italia pada kurun waktu tertentu dengan ciri-ciri tertentu yang ternyata ditunggangi paham Kiri yang concern pada masyarakat kelas pekerja. Usaha pembedaan film-film itu dari film-film Italia yang lain jadi hancur ketika tiap sutradara pun berusaha membedakan diri antara satu dengan yang lain. Karena sebenarnya para seniman ini cuman percaya sama identitas individu pada karya mereka, bukan sama kepentingan kelas pekerja.
Balik lagi ke kelasnya Mas Seno, dia bilang kesulitan membongkar label-label yang menopengi discourse-discourse ini adalah karena posisi kita (maksudnya kami, para mahasiswa nan malang ini) yang berusaha membongkar film sementara kita ada di dalamnya. Membongkar budaya sementara kita hidup dan bernafas dalam metabudaya.
Ini seperti analogi ikan di dalam akuarium yang berusaha menjelaskan tentang air. Sejauh apapun ikan itu menjelaskan, ia tidak akan bisa membongkar penuh konsep tentang air. Karena bagaimanapun, air itu memegang peranan penting dalam eksistensi kehidupannya.
Satu-satunya cara agar ikan itu bisa membongkar konsep air hingga ke dalam-dalamnya adalah dengan menjadi ‘outsider’. Dengan keluar dari akuarium dan mencoba hidup di udara sambil menelaah dan membongkar hal-hal di balik konsep air. Di satu sisi, si ikan mendapatkan pengetahuan yang naik tingkat levelnya dibandingkan pengetahuannya soal air sebelum ini, tetapi di sisi lain si ikan bisa mati.
Satu-satunya cara agar si ikan juga bisa bertahan hidup sekaligus mempertahankan posisinya sebagai ‘outsider’ dalam tujuan berusaha mencapai level pengetahuan tertentu, adalah dengan entah bagaimana belajar bernafas di udara. Ini adalah problem utopis. Idealnya, si ikan akhirnya berhasil berjuang dan berhasil menguasai metode pernafasan tertentu dengan menghirup udara lewat insang. Kenyataannya, hal itu belum pernah terjadi sebelumnya pada ikan-ikan yang lain.
Lalu pada akhirnya apa yang tersisa? Apakah pada akhirnya keinginan si ikan untuk memahami lebih jauh adalah sebuah kesalahan?
Menurut gue sih kesalahan analogi di atas adalah pemakaian hewan ikan sebagai contoh. Untuk belajar teori film, kita lebih cocok jadi amfibi. Saat diperlukan kita bisa ‘nyemplung’ ke dalam air, saat ingin memahami air kita bisa meloncat keluar akuarium dan hidup dengan menghirup udara. Kita perlu menjadi hewan dengan dua kepribadian dan dua mekanisme bertahan hidup dalam cara yang paling mendasar.
Sebegitu susahnya lah belajar teori film.
Anyway, ini cuma teori aneh dengan analogi aneh dalam rangka memahami apa yang terjadi sama otak gue saat belajar memahami film. Bahkan mungkin sebuah analogi yang sama sekali nggak relevan. But, I’ve told u. Something’s goin on in my head, rite?