Seberapa sering kita melihat ke layar bioskop dan mengenali ketika sang protagonist telah menentukan sebuah goal, bisa dipastikan akan ada penjahat/ bencana alam/ monster pemangsa/ zombie/ maupun oknum federal yang muncul untuk memastikan sang protagonist tidak begitu saja mendapatkan apa yang ia mau. Kita mengenali mereka semua sebagai antagonis, sang penjegal.
Lalu apa yang terjadi ketika Harry Potter harus bertemu Lord Voldemort dalam film Harry Potter, si istri pengembara bertemu si penebang kayu dalam Rashomon, dan Rangga harus berhadapan dengan Borne untuk mendapatkan Cinta dalam Ada Apa Dengan Cinta?
Kita menyebutnya Konflik.
Baik itu perebutan Batu Bertuah, cinta, ataupun tahta seperti dalam film Gladiator, kita bisa mengenali momen di saat keinginan protagonist menemui hambatan dalam perjalanannya menuju goal baik dalam wujud tokoh antagonis, angin puting beliung maupun penyerbuan alien ke bumi sebagai konflik.
Dalam kehidupan nyata, sangat jarang orang menginginkan konflik dalam hidupnya. Mereka menginginkan semuanya berjalan lancar dan baik-baik saja. Namun, konflik tidak pernah bisa dielakkan bahkan dalam kehidupan nyata. Selalu ada hal yang tidak berjalan sesuai keinginan kita. Baik konflik sekecil kemacetan di saat terlambat pergi ke kantor maupun konflik sebesar ketidakharmonisan hubungan dengan orang tua.
Lalu mengapa penonton yang merupakan masyarakat dengan karateristik di atas, pergi menonton film dan mengharapkan sebuah konflik disajikan di hadapan mereka? Bukankah mereka memiliki konflik-konflik mereka sendiri dalam kehidupan nyata yang terus-menerus membebani hidup mereka?
Aristoteles dalam Poetics pernah mengatakan, “ Drama adalah terapi social.” Dalam ilmu psikologi kita sering mendengar adanya metode terapi dalam bentuk bermain drama atau teater. Maka, kurang lebih penerapan terapi drama mirip dengan motode tersebut.
Ketika kita menonton film yang menyedihkan, kita ikut merasa sedih. Pengasahan terhadap kemampuan berempati ini lah yang dimaksudkan sebagai proses penyembuhan. Ketika para penonton merasa ‘disembuhkan’ , mereka merasa lebih baik dan dari sinilah perasaan terhibur muncul. Para penonton bisa merasa bahwa film, novel, atau cerita apapun yang mereka nikmati tersebut menghibur mereka.
Beberapa manual panduan menulis skenario seringkali menyatakan bahwa setelah karakter dan keinginannya dijabarkan, penulis perlu menciptakan hambatan terhadap keinginan tersebut. Ini akan menciptakan drama yang membuat film menarik untuk ditonton.
Jean Renoir, seorang filmmaker besar Prancis pernah mengatakan bahwa lebih menarik bercerita tentang seorang anak pelacur daripada seorang anak yang punya kehidupan baik-baik saja. Semua adalah tentang konflik dan drama. Tanpa konflik tidak akan ada drama.
Tanpa para petugas bandara yang ambisius dan keras, petualangan Tom Hanks bertahan hidup 9 bulan di bandara JFK dalam The Terminal tidak akan menjadi begitu mengharukan. Tanpa Ibu yang mengekang dan tunangan yang egois, petualangan cinta Rose diam-diam dengan Jack tidak akan membuat penonton pergi berkali-kali ke bioskop untuk menonton Titanic. Tanpa pasukan polisi mengepung Bank, kisah perampokan yang dilakukan Al Pacino dalam Dog Day Afternoon tidak akan membuat penonton merasa geli sekaligus iba.
Seorang konsultan scenario Hollywood terkenal pernah menyebutkan adanya ‘Three Levels of Conflict ’ dalam film yang meliputi: Inner Conflict, Personal Conflict, dan Extra-personal Conflict.
Film-film Ingmar Bergman adalah contoh film yang banyak mengeksplorasi tema-tema dengan Inner Conflict. Biasanya konflik terjadi antara tokoh utama dengan dirinya sendiri dan orang-orang terdekatnya yang kemudian menghasilkan drama-drama emosional.
Sementara Personal Conflict banyak ditemukan dalam film-film yang mengeksplorasi tema-tema budaya atau permasalahan ‘Man v.s Man’ dan ‘Man v.s society’. Film berjudul Man to Man misalnya, mengeksplorasi konflik ideologi terhadap permasalahan prasangka terhadap kultur dan ras tertentu.
Untuk Extra-personal Conflict, film-film khas Hollywood adalah yang paling sering mengeksplorasi konflik dalam level ini. Kita melihat Bruce Willis dan kawan-kawan menghadapi konflik melawan meteorit yang nyaris menerjang bumi dalam Armageddon, atau sekelompok orang berusaha lari dari dinosaurus ganas dalam Jurassic Park, dan James Bond sekali lagi menyelamatkan dunia dari penjahat keji yang mengancam dengan nuklir.
Konflik dalam cerita muncul di mana-mana, baik dalam film, dalam kisah drama teater, cerpen, dan novel. Dalam cerpen-cerpen Djenar Maesa Ayu, Inner Conflict juga sering muncul dalam tema-tema yang mengeksplorasi masalah perempuan dan seksualitas. Dalam novel Kubah karya Ahmad Tohari, konflik antara sang tokoh utama dengan warga kampungnya memperlihatkan Personal Conflict ‘ Man v.s Society’ tentang prasangka sosial terhadap seorang bekas narapidana.
Konflik cinta dan dendam mewarnai drama teater Hamlet karya Shakespeare dan kita semua tentu familiar dengan konflik antara keluarga Capulet dan Montague dalam kisah cinta tragis Romeo and Juliet karya penulis yang sama.
Lalu apa sebenarnya kepentingan sebuah konflik dalam cerita?
Aristoteles pernah menyatakan bahwa perlu ada pertarungan/ pertentangan untuk menghasilkan drama. Pertarungan sebagai wujud dari konflik bahkan bisa ditemukan sejak diturunkannya Bible, Al Quran, dan kitab suci lainnya. Konflik dikemas dengan cara-cara tertentu untuk dikembangkan menjadi media dakwah.
Konflik antara Nabi Yusuf dan saudara-saudaranya mengajarkan umat Islam tentang kesabaran dalam menghadapi kezaliman. Ketika kemudian Nabi Yusuf bertemu seorang istri petinggi Mesir yang tertarik padanya, konflik yang muncul mengajarkan tentang kesabaran dalam menghadapi godaan.
Dalam Illiad dan Odissey karya Homer, kisah Helen of Troy yang terkenal adalah bahkan adalah kisah pertarungan memperebutkan Ratu nan jelita tersebut. Sementara dalam kesusastraan besar India seperti Mahabaratha dan Ramayana, konflik antara Pandawa dan Kurawa, Rama dan Rahwana bahkan terkenal dengan kemungkinan-kemungkinan interpretasi yang lebih luas.
Maka seperti juga cerita, mitologi, dongeng, maupun kisah-kisah dakwah, film memiliki kepentingan menyampaikan pesan yang sama. Dengan kata lain, film dengan ideology apapun, juga butuh konflik untuk menghasilkan drama tertentu yang mendukung penyampaian pesannya.
Shakespeare menyampaikan kisah ketragisan sekaligus kebesaran cinta ketika menulis naskah Romeo and Juliet, Gabriel Garcia Marquez menyampaikan pesan kesunyian di sebuah kota imajiner di belantara Amerika Selatan, Macondo dalam novelnya One Hundred Year of Solitude.
Pada akhirnya baik lewat pementasan, tulisan, maupun rekaman gambar bergerak, sebuah cerita yang baik membutuhkan konflik untuk memastikan para penikmat cerita duduk manis dan mendengarkan penuh perhatian, siap menerima pesan apapun yang sedang pembuatnya coba sampaikan.