Bagaimana penonton bisa mengidentifikasikan dengan kuat bahwa film adalah sebuah hiburan merupakan sebuah pertanyaan yang mungkin akan terjawab jika lebih dulu kita menguraikan unsur-unsurnya, yaitu film, hiburan, dan penonton.
Pada awal sejarah film, film pertama yang dipertontonkan oleh Lumiere bersaudara pada tahun 1985 di Grand Café, Paris adalah sebuah rekaman sederhana kedatangan sebuah kereta. Dengan sedikit memainkan sudut pengambilan gambarnya, rekaman itu berhasil membuat penonton ketakutan dan berlari keluar dari gedung karena mengira kereta dalam rekaman tersebut akan menabrak ke arah mereka. Ini menunjukkan bahwa sejak pertama kali dipertontonkan secara umum, film justru menakut-nakuti penonton.
Tapi apakah setelah kesan pertama tersebut film berhenti ditonton? Ternyata tidak. Film sampai saat ini, masih tetap ditonton di seluruh pelosok dunia. Penemuan tontonan berupa rekaman gambar bergerak ini terus berkembang di tangan orang-orang seperti Melies, Pathe hingga industri film terbesar saat ini, Hollywood.
Menurut Seno Gumira Ajidarma, film teriwayatkan dalam dua konteks: Pertama, konteks ilmiah, bahwa kucing berjalan yang direkam sine-kamera akan terproyeksikan kembali seperti kucing berjalan; dan kedua, konteks bisnis, bahwa pertunjukan gambar idoep ini mengundang penonton dan menghasilkan uang.
Untuk konteks yang kedua, Hollywood memahaminya dengan lebih baik. Di awal berdirinya industri film Hollywood sekitar tahun 1909, kelima studio besarnya masih meraba-raba bagaimana cara mereka berdagang film. Ini dikarenakan, pada masa itu film adalah benda asing yang tidak memiliki jaminan seperti halnya donat Krispy Kreme atau ayam goreng Kentucky untuk dijual.
Satu-satunya yang bisa mereka lakukan hanyalah terus-menerus meriset selera pasar. Pada satu masa, sebuah film bisa begitu laris di pasaran karena digarap oleh seorang sutradara berbakat dan tahun berikutnya sutradara yang sama justru membuat sebuah kerugian besar dengan film lain yang dibuatnya. Keinginan penonton selalu berubah dalam rentang waktu yang begitu cepat.
Ini berarti ketika penonton telah mengidentifikasikan film sebagai hiburan, makna hiburan itu sendiri pun terus berubah seiring waktu. Lalu apakah hiburan itu? Mengapa film dianggap sebagai sesuatu yang menghibur?
Bagi para industrialis, seperti halnya Hollywood, ukuran sebuah film yang dianggap berhasil menghibur penonton selain masalah seberapa banyak tiket yang terjual, adalah ketika film bisa membuat penonton terpaku. Ketika film bisa membuat, bahkan penonton yang paling tidak berminat, untuk tetap duduk di kursinya tanpa mengeluh.
Cerita didesain sedemikian rupa agar menimbulkan proses identifikasi. Proses inilah yang dianggap mampu ‘menjaring’ perhatian penonton secara penuh. Proses ketika penonton telah menjadi sama khawatirnya, takutnya, sedihnya, marahnya, dan senangnya dengan protagonis. Proses yang membuat penonton lupa, mereka sedang menonton kehidupan orang lain, bukan sebuah kehidupan dimana mereka benar-benar terlibat secara langsung di dalamnya.
Tidak hanya film-film ‘menjual’ ternyata yang bisa membuat penonton terpaku. Film-film yang digolongkan sebagai film Art toh dengan caranya sendiri membuat para penonton terpaku menatap layar (meskipun film-film ini tidak sepenuhnya dibuat dengan kesadaran untuk tujuan tersebut). Mencoba memahami benar apa yang terjadi di hadapan mereka.
Apa yang membuat penonton merasa menjadi seseorang yang berbeda dengan kehidupan yang berbeda sebagai sesuatu yang menghibur?
Jika menilik angka statistik pasar penonton film di daerah urban yang bisa 10 kali lebih banyak dari daerah-daerah lain di daerah non-urban, maka mau tidak mau standar penonton yang dibakukan adalah standar penonton daerah urban. Maka pertanyaannya kini adalah: Ada apa dengan masyarakat urban?
Dunia terus bergerak dan kemajuan di daerah urban -yang mayoritas memusatkan diri pada hal-hal seperti modernitas- makin pesat seperti halnya komputer yang terus-menerus memiliki sesuatu untuk di-up grade. Masyarakat urban terbiasa dengan segala sesuatu yang instant dan cepat. Begitu pula dengan hiburan.
Ketika orang-orang ini bosan dan penat dengan kehidupan mereka, mereka ingin mengalami jenis kehidupan yang berbeda. Bahkan meskipun itu jenis kehidupan dimana orang-orang harus segera mengungsi ke ujung dunia karena para alien menyerbu bumi dan membumihanguskan segalanya. Karena yang penting bukan bagaimana cara mereka melepaskan diri dari alien-alien itu, melainkan kepastian bahwa apapun yang terjadi, selama mereka mengidentifikasikan diri dengan protagonist, segala sesuatu akan berjalan baik-baik saja pada akhirnya. Alien-alien itu akan musnah, Tom Cruise selamat, begitu pula kedua anaknya seperti dalam film The War of The World.
Bahkan jika sang protagonist mati, seperti Bruce Willis dalam film Armageddon, penonton akan merasa baik-baik saja karena bumi toh pada akhirnya selamat dari terjangan meteor berkat kepahlawanan sang protagonist.
Dengan kata lain, jenis hiburan yang diinginkan para penonton ini adalah kesempatan untuk mendapatkan pengalaman emosional. Sebuah pengalaman dimana mereka bisa merasakan menjadi orang lain dengan kehidupan lain, tidak peduli seberapa seru, menakutkan dan menyedihkannya asal bukan kehidupan membosankan yang harus mereka jalani tiap hari.
Film menawarkan solusi hiburan tersebut. Hanya dalam waktu dua jam yang singkat, mereka bisa mendapatkan suatu pengalaman emosional dengan hidup melalui orang lain sambil duduk di kursi dan makan popcorn. Sebuah karakter dan kehidupan yang didesain sedemikian rupa demi kepentingan membuat mereka tertawa, menangis, menutup mata karena ketakutan, ataupun bahkan memutar otak untuk memahami.
Lalu apa yang penonton cari di sini? Apa yang penonton cari dari jenis hiburan seperti film, yang memberikan ilusi bahwa mereka memiliki kehidupan lain di luar kehidupan mereka saat ini?
Menurut saya, apa yang penonton cari adalah security. Rasa aman. Di satu sisi, jika penonton tidak puas dengan apa yang mereka tonton, mereka akan keluar dari bioskop dengan pikiran bahwa hidup mereka ternyata jauh lebih baik dari apa yang ada di dalam film. Ini memberikan suatu rasa aman bagi mereka untuk terus melanjutkan kehidupan mereka seperti biasanya.
Di sisi lain, jika film berakhir dengan memuaskan, penonton akan keluar dari bioskop dengan sebuah harapan bahwa kehidupan mereka pada suatu hari nanti, entah bagaimana dan kapan, akan berakhir dengan memuaskan pula. Hal ini pun memberikan semacam rasa aman untuk melanjutkan kehidupan mereka selama ini.
Sementara persoalan adanya hegemoni film sebagai hiburan, menurut saya, harus kita kembalikan pada masa awal sejarah film dimana Lumiere bersaudara mengembangkan sistem proyeksi dan menemukan sinema kamera mereka sendiri. Ketika film mereka dipertontonkan, penyusunan gambar pun secara sadar dilakukan untuk mempertahankan dan mengundang lebih banyak penonton agar, pada akhirnya, menghasilkan lebih banyak uang.
Inilah yang disebut Seno Gumira Ajidarma bahwa film lahir dari Teknologi, yaitu perkawinan antara Teknik dan Ideologi. Bahwa penjajakan ideologi dengan orientasi kapitalis lah yang mendorong segenap penemuan teknologi, penyusunan naratif, hingga perkembangan teknis visual dan bahasa sinematik dari film. Teknologi sinematografi dikembangkan secara ilmiah bukan berdasarkan tuntutan ilmu pengetahuan, melainkan tuntutan hiburan.
Ketika film secara sosial dan historis tergiring ke dalam dunia industri hiburan, pada akhirnya segalanya mengacu pada satu hal, penonton. Apakah film tersebut menghibur atau tidak, penilaian akhir toh tetap ada pada penonton.