Bayangkan sebuah dunia tanpa iklan. Bayangkan sebuah dunia tanpa adanya kegiatan yang dilakukan para produsen produk apapun untuk memaksa kita memahami keripik kentang rasa terbaru maupun jenis laptop termutakhir di saat keinginan kita yang sebenarnya hanyalah duduk nyaman di sofa dan menyaksikan film apapun yang sedang diputar di televisi.
Bayangan mengenai dunia tanpa iklan sebenarnya memiliki dua kemungkinan. Pertama, kita bisa membayangkan sebuah dunia bebas iklan yang terpisah dari keberadaan dunia lain ataupun masa lalu dimana dunia masih dipenuhi iklan. Atau yang kedua, kita bisa membayangkan dunia yang bebas iklan dimana situasi tersebut adalah hasil perubahan zaman –entah bagaimana caranya- sehingga membuat iklan menghilang tiba-tiba dari muka bumi.
Jika yang diperoleh adalah situasi pertama, maka permasalahan tidak akan terlalu sulit. Mengingat mekanisme promosi barang jualan adalah sesuatu yang asing dan tidak pernah dilakukan dalam dunia tersebut, tidak ada seorang pun yang akan protes terhadap ketiadaan iklan. Sama seperti dalam dunia kita saat ini tidak ada orang yang mau capek-capek protes terhadap ketiadaan bwoyelgueblak, karena toh tidak ada satu pun diantara kita yang tahu benda atau konsep apakah bwoyelgueblak itu.
Jika membayangkan dunia dengan situasi yang pertama, akan sulit membuat perbandingan dan memahami seberapa pentingnya iklan dalam hidup kita, mengingat sepertinya tujuan perintah ‘membayangkan’ di atas punya tendensi ini. Dunia bebas iklan akan diterima begitu saja, sama seperti kita menerima begitu saja dunia saat ini.
Namun, jika yang diperoleh adalah situasi yang kedua, masalahnya akan menjadi lain. Situasi kedua adalah situasi dimana dunia kini meletakkan wacana mengenai iklan dalam buku-buku sejarah dan katalog belanja dalam toko barang antik. Situasi dimana dunia menghadapi semacam bentuk evolusi peradaban baru yang mengeliminasi kepentingan beberapa kaum minoritas yang di masa sebelumnya punya terlalu banyak kekuatan dan kekuasaan. Kaum minoritas ini lah, yang disebut-sebut dalam buku sejarah dan ensiklopedia zaman pra-peradaban baru sebagai kaum Businessman (dan Bussineswoman).
Bayangkan ketika dalam dunia seperti ini, sekelompok anak sekolah diperintah oleh guru sejarahnya untuk memeriksa periode zaman tertentu dimana iklan masih merajalela di dalam ruang kehidupan masyarakat dunia. Anak-anak ini akan menemukan bahwa pada zaman pra-peradaban baru itu, iklan sempat berkembang biak dalam wujud yang beraneka rupa, menelusup dalam hidup masyarakat dunia dengan cara-cara yang kadang tidak terduga, dan mempengaruhi kehidupan mereka nyaris seperti air mempengaruhi kehidupan ikan, ubur-ubur, udang, dan berbagai hewan laut lainnya.
Anak-anak ini juga akan menemukan bagaimana iklan yang awalnya muncul sebagai alat bagi para produsen dan pengusaha untuk mempromosikan produk jualan mereka, sempat berhasil jadi alat yang mengendalikan berbagai hal dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Lalu anak-anak ini pun mulai merekonstruksi sejarah dalam imajinasi mereka. Mereka membayangkan taman-taman di sekitar mereka yang dipenuhi pohon-pohon serta dihuni burung-burung harus berbagi tempat dengan papan besar berwarna mencolok dengan lampu neon yang membuatnya menyala di malam hari. Jalan-jalan di seluruh kota yang tepiannya dihiasi deretan tanaman hias harus menyisakan petak bagi tembok-tembok tempat pamflet dan poster ditempelkan. Mereka juga membayangkan televisi -benda membosankan yang harus mereka bayar mahal tiap bulan untuk berlangganan acara berita- dipenuhi video-video 30-60 detik yang menampilkan musik dan beberapa orang terkenal menari-nari untuk memperkenalkan sikat gigi model terbaru yang dilengkapi tombol motor otomatis.
Anak-anak ini mungkin juga akan pergi mencari orang tertua di kota mereka demi mendapatkan narasumber langsung. Orang tua ini mungkin akan menyuruh anak-anak itu berkumpul dan duduk di taman sementara ia bercerita masa-masa kejayaannya dulu sebagai bagian dari kaum Businessman. Masa dimana ia pernah menjadi orang-orang yang bisa mengendalikan apa saja dengan kekuasaan yang ia miliki. Masa dimana ia bisa memaksa para pembuat program acara televisi untuk anak-anak mengiklankan produknya –sebuah snack tanpa gizi dengan bahan pengawet dan bumbu penyedap yang berbahaya- setiap 5 menit sekali dalam durasi penayangan 1 jam. Masa dimana ia tahu betul, setiap hari Minggu anak-anak itu duduk bengong di depan televisi, menonton kartun sambil mengunyah snack buatan pabriknya semata-mata agar mereka dianggap sama dengan anak-anak dalam iklan dan teman-teman mereka yang lainnya.
Anak-anak ini kemudian juga akan pergi ke toko barang antik. Menemukan pamflet-pamflet dan buku katalog belanja, mengambil fotonya, sambil mewawancarai pemilik toko yang juga sempat hidup di zaman pra-peradaban baru. Pemilik toko ini mungkin akan bercerita bagaimana dulu saat ia bekerja di sebuah hypermarket, ia biasa melihat ibu-ibu dan keluarga mereka memeriksa seksama harga-harga yang ia pajang di beberapa produk yang tertata rapi di rak-rak panjang. Ibu-ibu ini akan mencocokkan harga yang tertempel dan harga di katalog yang menyatakan bahwa itu adalah harga diskon. Lalu ibu-ibu ini akan membawa barang itu ke meja kasir sambil tersenyum dan berterima kasih dalam hati pada sang katalog karena telah membantunya mendapatkan sebuah benda dengan harga yang jauh lebih murah dari harga aslinya. Tanpa ia sadari bahwa itu adalah barang hasil cuci gudang, yang memang telah mengalami penurunan kualitas dan sebenarnya tidak layak jual, tetapi tetap harus dijual karena sang produsen menyukai ide dimana ia makin bertambah kaya dan berkuasa dari orang kebanyakan.
Lalu anak-anak ini akan pulang ke rumah. Sibuk bertanya pada ayah dan ibu mereka mengenai iklan dan kebijakan zaman peradaban baru untuk mengeliminasinya dalam kehidupan masyarakat. Para ayah dan ibu ini kemudian akan mendudukkan anak mereka di meja makan, menyuruhnya memakan semua wortel dan brokoli yang si anak benci sambil mendengarkan penjelasan mereka. Para ayah dan ibu ini akan memulai penjelasan mereka dengan keputusan yang telah disepakati seluruh masyarakat dunia bahwa sudah saatnya mereka melakukan perlawanan terhadap dominasi kaum minoritas Businessman dan Businesswoman dalam mengendalikan dunia. Mereka kemudian menemukan -berkat para peneliti dan ilmuwan media- bahwa cara paling tepat untuk membekukan kekuasaan kaum ini adalah dengan mengeliminasi iklan.
Iklan yang membuat anak-anak pada zaman itu terus merengek minta dibelikan snack-snack dan mainan-mainan baru, yang membodohi para penonton setia televisi dengan berbagai ilusi gaya hidup kebendaan tertentu, yang mengalihkan perhatian masyarakat dari masalah publik dan Negara yang sebenarnya. Benda itulah yang dimasukkan dalam daftar ‘perlu dimusnahkan’ dalam manifestasi kebijakan zaman peradaban baru ini.
Setelah mendengarkan cerita orang tua mereka, anak-anak ini akan diperintah agar segera menghabiskan makan malam mereka dan tidur. Cuci muka, menggosok gigi, berganti piama, lalu naik ke tempat tidur sementara ayah dan ibu mereka mematikan lampu kamar. Dalam ruangan yang gelap itu, si anak pun mulai membayangkan. Bayangan tentang snack-snack zaman dulu yang penuh penyedap rasa berbahaya, sikat gigi dengan motor dan tombol otomatis, serta berbagai produk mainan rakitan yang ada di katalog.
Lalu anak-anak ini merasakan keinginan kuat itu, keinginan untuk memiliki semua benda-benda itu sambil mulai memejamkan mata. Bayangan mengenai katalog, pamflet, dan iklan yang warna-warni menari-nari dalam otaknya. Si anak ini pun berpikir terakhir kalinya sebelum jatuh tidur, membayangkan bahwa kekuasaan pastilah bisa membuat dirinya bisa menolak saat dipaksa makan brokoli dan wortel. Ia pun mulai memikirkan, bahwa jika suatu hari di masa depan ia dan teman-temannya berhasil membangun sebuah bentuk peradaban lain yang benar-benar baru, ia mungkin akan membuat kebijakan lain. Ia mungkin akan mengembalikan kejayaan iklan seperti masa sebelumnya, menjadi Businessman atau Businesswoman, dan menguasai dunia lewat produk snack, sikat gigi otomatis, serta mainan rakitan kesukaannya.